Review: Jejak Langkah

Judul: Jejak Langkah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Ini buku kedua Tertralogi Buru yang rampung saya baca (harusnya ini jadi buku yang ketiga – sayangnya saya memang belum baca seri buku pertamanya – tapi langsung lompat ke seri kedua dan ketiga) – sekarang malah baca seri keempat #finalchapter, Rumah Kaca

Saya kurang begitu yakin, tapi rasanya lebih baik mengikuti seri ini dari awal – meski gak salah juga kalau potong kompas #tunjukdirisendiri, hehee ^_^”

Di buku ini, Minke – tokoh utama – memutuskan untuk lebih peduli dengan kondisi bangsanya – Pribumi Hindia. Menurut saya, perubahan itu dimulai ketika dia mengenal Ang San Mei – istri keduanya. Minke memulai perjuangannya dengan mendirikan organisasi dan surat kabarnya sendiri.

Medan – itulah nama surat kabarnya

Medan yang menjadi surat kabar Pribumi pertama – berhasil menyita perhatian masyarakat, melalui “Medan” mereka dapat mengadukan segala kesusahan yang diakibatkan oleh kekuasaan kolonial saat itu. Kontan saja tiras “Medan” menanjak naik dan ogah turun – dengan kondisi ini pihak Gubermen mulai khawatir kalau “Medan” akan mempelopori pemberontakan dari para Pribumi.

Terlepas dari lahirnya “Medan” ditengah-tengah masyarakat Pribumi – Minke juga mendirikan organisasi modern – dikenal dengan nama Syarikat Prijaji – tapi tidak bertahan lama karena para anggotanya (golongan priyayi) tidak berhasil menjalankan organisasi sebagaimana tujuan pembentukannya. Setelah gagal mempertahankan Syarikat Prijaji – Minke mencoba memperbaiki keadaan dengan merombak Syarikat Prijaji dan menggantinya dengan Syarikat Dagang Islamijah (SDI). SDI cukup berhasil dan mendapatkan banyak anggota – hampir melebihi jumlah anggota yang dimiliki Boedi Oetomo.

Awalnya saya sempat megap-megap membaca buku ini – #tebalgila – tapi yah, pilihan sudah ditetapkan begitu saya menarik buku ini dari raknya, “harus konsekuen” begitu kata saya berulang kali saat nyaris berhenti ditengah jalan.

Harus diakui, membaca buku-bukunya Om Pram jauh lebih menyenangkan, meski lebih banyak bercerita tentang sejarah Indonesia – tapi beneran deh, saya lebih baik pilih buku ini daripada buku pelajaran Sejarah saya dulu, hehe.. @_@

Kutipan:

Lalu siapa Minke dalam Tetralogi Buru ini? Nama aslinya memang tidak pernah diungkapkan dalam 3 buku pertama. Tapi di Jejak Langkah disebutkan inisial Minke dalam menulis berita: TAS.
Meskipun saya sudah tau dari teman saya yang merekomendasikan tetralogi ini, saya mencari juga di internet :D

Minke alias TAS adalah RM Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional yang baru diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada November 2006. Seperti pada buku, tahun 1906 ia mendirikan Syarikat Prijaji, tahun 1907 menerbitkan koran Medan Prijaji dan tahun 1909 mendirikan Syarikat Dagang Islam. Tulisan2 mengenai Tirto Adhi Soerjo bertebaran di internet. Untuk lebih lengkapnya, silakan googling :D

Thamrin Mohammad Thabrie adalah Thamrin Mohammad Thabrie, seorang Wedana Batavia, ayah dari Mohammad Husni Thamrin.
Marko adalah Mas Marko Kartodikromo, anak didik Tirto Adhi Soerjo, yang setelah sang guru meninggal, pindah ke Surakarta dan mendirikan surat kabar sendiri bernama Doenia Bergerak. Prinses van Kasiruta, istri ketiga Minke, adalah Prinses Fatimah, istri ketiga Tirto Adhi Soerjo, yang lebih dikenal dengan nama Prinses van Bacan. Hadji Samadi adalah K.H.Samanhudi tentu saja :D

sumber: Goodreads by Weni

5 thoughts on “Review: Jejak Langkah

  1. Hehehe.. Yang bumi manusia lebih seru mungkin karena banyak dramanya ya! Hehe buku 2,3,4 nya juga rame tapi lebih berat ke sisi historicalnya memang! Nice reviews, jadi pengen baca ulang.

    • waahh..aku belum baca yang Bumi Manusia #nangis
      pasti seru kali ya – seri pertama kan biasanya begitu – hehe..
      iya berat banget #pengaruhketebalanbuku

      makasih yaa sudah mampir ^_^

  2. Bacalah Bumi Manusia. Di sana kamu nggak bisa tidur. Tapi, Rumah kaca adalah puncak Pramoedya Ananta Toer. Bukan saja drama, tapi model penulisannya juga berbeda dari 3 seri sebelumnya.

  3. waw. saya suka kutipannyaa!!
    baru tahu, lho… makasih yaaa~

    saya juga megap-megap nih bacanya.. tapi setelah tahu fact-nya.. semangat lagi.
    yang paling mantap dari buku2 PAT adalah membuat orang yang membaca mikir dan pengen nulis juga…. hhe. itu sih yang saya rasakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s