10 Tips Menulis Resensi Buku

Hoalah, coba tengok deh judulnya, agak gemana gitu – secara saya ini masih anak bau kencur – kok yaa berani-berani.nya memposting hal soal menulis resensi buku. Gapapah, saya kan mau berbagi, hitung-hitung nambah pahala – mumpung mau bulan puasa, hehee..

Ini nih tips trik.nya yang saya dapat dari Mas Adian Saputra dan Indonesia Buku : (umm, ada sedikit tambahan dari saya juga siih, tapi dikiit kok, suer)

Adian Saputra says:

Meresensi ialah menulis ihwal sebuah buku (apa itu ihwal? ihwal : hal, perihal). Kita menimbang isi buku, memberikan uraian, mengajukan kritik, pujian, dan mengulas konteks yang sesuai dengan isi buku. Dibandingkan dengan menulis artikel opini, menulis resensi bisa dibilang lebih mudah. Mengapa? Sebab, objek yang akan kita tulis itu sebelumnya sudah dibaca. Dengan demikian, keseluruhan naskah yang kita buat berasal dari pembacaan kita atas isi buku.

Hampir semua media cetak dan majalah, punya rubrik resensi. Umumnya hadir setiap hari Sabtu dan Minggu. Di situlah setiap penulis bersaing mengirimkan karya resensi terbaiknya.

10 tips di bawah ini semoga membantu kita yang hendak meresensi buku:

Pertama, memilih buku

Memilih buku memang gampang-gampang susah. Tapi pilihlah buku yang disukai. Dengan begitu kita akan lebih bersemangat untuk membaca dan membuat resensi. Ibarat memilih makanan – memilih buku juga begitu. Jika Anda suka membaca karya-karya fiksi, tentu akan mogok jika diberikan buku-buku ekonomi atau sains. Demikian pula, jika Anda menyukai buku bertema non fiksi seperti memoar, akan susah dipaksa membaca buku anak-anak. Jadi, pilihlah buku yang sesuai dengan minat dan meresensilah.

Kedua, beli buku – jangan pinjam

Seorang teman berkata, orang paling bodoh sedunia adalah mereka yang senang meminjamkan buku. Usut punya usut, buku teman ini banyak tak kembali setelah lama dipinjam sejawat yang lain. Saya sependapat. Kalau hendak meresensi, beli, jangan pinjam. Dengan membeli, koleksi buku kita bertambah. Saat kita hendak menggunakan, tinggal ambil di lemari perpustakaan pribadi. Kalau meminjam, pasti repot. Mau membaca, mesti meminjam. Apalagi kalau dipinjam untuk diresensi, lebih ruwet lagi. Jadi, belilah buku. Itu investasi buat kita. Buku adalah gudang ilmu kalau kita membacanya.

Ketiga, cantumkan data buku

Data buku yang dimaksud adalah: judul buku, penulis (jika buku terjemahan, tuliskan judul asli dan penerjemahnya), penerbit (dan kotanya), waktu terbit, jumlah halaman, dan jika perlu juga cantumkan harga buku.

Keempat, selesaikan membaca

Peresensi yang baik selalu membaca semua naskah di dalam buku. Dengan membaca seluruhnya, kita akan mendapatkan gambaran yang utuh tentang isi buku. Kesimpulan buku bisa kita buat karena kita memahami perpaduan antarbab. Mau meresensi tanpa mengkhatamkan bacaan? Saya sarankan jangan. Justru kenikmatan kita yang pertama ialah saat kita menikmati baris demi baris, kata per kata, kalimat per kalimat, sebelum kita meresensi. Dengan membaca utuh, kita bisa meresensi dengan baik. Semua hal dalam buku bahkan kita ceritakan ulang dengan gaya bahasa sendiri.

Kelima, Judul dan Paragraf Pembuka

Pentingnya judul resensi seperti pentingnya penunjuk arah dalam rambu lalu lintas. Judul adalah pintu pembuka seorang pembaca untuk masuk dalam tulisan kita. Begitu juga paragraf pembuka mestilah memikat. Paragraf pembuka, dalam hal ini, adalah pengait pertama dan utama agar pembaca penasaran. Paragraf pembuka yang buruk membikin kita malas baca. Padahal resensi yang baik adalah memiliki pembuka yang bagus. Maka cari apa yang paling menarik dari buku itu yang perlu diletakkan di paragraf pembuka.

Keenam, tandai bagian yang penting

Buku yang baik itu tak mesti mulus terus. Kadang kita mesti memberinya dengan tanda khusus, bisa dengan bolpoin atau spidol. Bagian yang penting kita tandai dengan stabilo. Bisa juga dengan menuliskan catatan kaki di lembar buku. Ini akan memudahkan kita memaknai maksud dari buku itu.

I agree, asal buku yang mau dicorat-coret bukan buku pinjaman. Kalau berhasrat pengen corat-coret – lakukan di notes tersendiri – gak mungkin deh seorang peresensi/ penulis/ calon penulis gak punya notes :) or tempelin post-it, saya suka menandai halaman yang menarik dengan post-it warna warni, karena mencoreti buku dengan stabillo, meski itu buku sendiri rasanya gimana gitu, gak nyaman aja, lain soal kalau itu buku-buku pelajaran, hehee..

Ketujuh, tulislah plus-minus buku

Biasanya yang kita tulis dalam resensi ialah keunggulan, keunikan, dan kelemahan. Supaya gampang, bikin separuhnya yang plus, sebagian lagi yang minus. Persentasenya tak mutlak begitu, bahkan dalam beberapa kali pengalaman, minusnya jauh lebih sedikit. Lantas, apa saja yang bisa ditulis itu? Karanglah soal isi buku, menarik tidaknya, bahasanya gampang dipahami atau malah rumit, pengaturan bab per bab.nya sudah oke atau belum, font huruf.nya enak dibaca atau terlalu kecil. Bisa juga soal konteks isi buku dengan fenomena sekarang, sejauh mana buku ini memberikan pengaruh, dan sebagainya. Kadang, buku yang diresensi cuma menjadi “cantelan” dari sebuah peristiwa yang sedang hangat dibicarakan. Contoh, kita memiliki gagasan soal isu terorisme, dan kebetulan kita menemukan buku soal itu. Ide kita bisa dikomparasi dengan konten buku. Ini akan mengayakan artikel resensi yang kita tulis.

Kedelapan, ulas penulisnya

Yang barangkali jarang disinggung penulis resensi ialah tak mendedahkan si penulis buku dalam artikelnya. Padahal, ini juga bagian yang menarik. Bahkan, bisa jadi kalimat awal tulisan resensi kita malah berkenaan dengan penulisnya. Apakah penulis itu tersohor atau baru mentas, tidak penting. Latar belakang penulisnya tetap saja menarik. Sebab, dialah yang menjadi aktor atas lahirnya sebuah karya intelektual bernama buku. Motivasi sang penulis, suka-duka saat akan menerbitkan, proses kreatif menulis buku adalah menarik untuk ditimbang atau diulas. Kalau ini kita lakukan juga dalam resensi, pembaca resensi bakal mendapat informasi yang kaya.

Kesembilan, panjang pendek tulisan

Panjang dan pendek juga perlu diperhatikan dalam penulisan resensi. Kalau menulis di surat kabar harian atau majalah berita, biasanya maks. 900 kata diketik di MS Word atau 2.5 halaman satu spasi. Jika menulis di jurnal ilmiah, bisa sampai 20 halaman. Jika menulis di internet tentu lebih pendek sekitar 600 kata atau 1.5 halaman kwarto

Kesepuluh, last but not the least

Setelah tulisan selesai dibuat, judul sudah mantap, editing sudah oke, jangan lupa dilampirkan hasil pemindaian (scan) sampul buku. Kalau masih ada lampirkan pula nota pembelian bukunya. Kadang, ada redaktur yang cerewet sampai urusan nota pembelian buku. Nota ini juga discan supaya bisa dilampirkan di surat/ email bersamaan dengan naskah resensinya.

Menjadi peresensi buku itu enak kok. Dibanding menulis opini, imbasnya lebih enak menulis resensi. Perbandingannya begini. Kalau soal honor, pasti sama-sama dapat. Yang menguntungkan dalam meresensi ialah kita bisa mendapat kiriman buku gratis dari penerbit yang bukunya kita resensi. Kok bisa? Begini caranya. Kalau artikel resensi kita sudah dimuat surat kabar, guntinglah. Lalu bikin surat pengantar ke penerbit bahwa kita sudah meresensi buku itu di surat kabar. Lampirkan klipingan dan nota pembelian buku. Surat itu intinya kita minta penerbit mengirimkan koleksi buku terbaru mereka ke alamat rumah kita. Surat, klipingan, dan nota pembelian masukkan ke amplop, lalu kirim via pos. Tunggulah dalam dua pekan, kiriman buku baru dari penerbit akan kita dapatkan. Itu sekadar atensi penerbit karena secara tidak langsung kita sudah mempromosikan buku mereka. Koleksi buku saya dari Penerbit Buku Kompas juga diperoleh dengan taktik demikian. Buku seri Perang Eropa dan Perang Pasifik juga saya dapatkan lantaran rajin meresensi buku terbitan Penerbit Buku Kompas. Pernah pula mendapatkan buku lengkap Ensiklopedia Nabi Muhammad dari Penerbit Mizan. Jelas kan, betapa menulis resensi itu punya manfaat yang berlipat. Ayo, kirim resensi bukunya!

Naahh – gimana-gimana, ada yang sudah bernafsu pengen membuat resensi buku? Happy writing yaahh.. ^_^v

8 thoughts on “10 Tips Menulis Resensi Buku

  1. sejauh ini saya selalu bernafsu untuk menulis resensi, kadang langsung jalan setelah baca buku, kadang harus nunggu 2-3 hari baru dirensensi, bahkan tak jarang akhirnya buku sama sekali tidak dirensensi… tapi yang pasti meresensi buku memiliki banyak keuntungan dan kenikmatan tersendiri

    • iya mbak setuju – meski saya sendiri belum terlalu merasakan keuntungannya sihh
      buat saya menulis review atau resensi itu sekalian melatih daya ingat tentang konten sebuah buku plus melatih cara menulis – sempat deh saya ngiri sama hasil review teman2 blogger yang pada bagus2 (including mbak sinta tentunya :P) – tapi yahh, namanya juga belajar, need a process, ya kan? *wink*
      thank you uda mau mampir ya sist’ – tetap smangat meresensi..cyahoo.chayoo ^_^

  2. Pingback: Menulis Resensi Buku | eni setyani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s