Review: Club Camilan

Judul: Club Camilan
Penulis: Donna Talitha, Bella Widjaja, BrigittaNS
Penerit: Gramedia
ISBN: 9789792248340
Terbit: Agustus 2009
Tebal: 328 hlm

Cinta milik siapa saja

Inilah nilai yang coba disampaikan oleh ketiga penulis di novel ini.

Masing-masing penulis memiliki ceritanya sendiri ada Donna (Donat), Bee (Bolu) dan Nies (Brownies), mungkin itu jugalah alasan kenapa novel keroyokan ini diberi judul Club Camilan, karena ketiga tokohnya entah sengaja atau tidak mewakili nama-nama camilan tersebut ^^, hehe..

Novel ini diawali dengan cerita Donna yang plin-plan (jika membaca sinopsisnya dikatakan yang plin plan adalah Nies) tapi menurut saya justru karakter Donna-lah yang plin-plan, dia tidak bisa memutuskan kepada siapa akan menjatuhkan pilihan hatinya. Begitu banyak yang berusaha mendekati dan memenangkan hatinya, tapi tetap saja – keputusan akhir itu tidak pernah dibuat.

Cerita kedua, tentang Bee seorang Marketing yang posesif sekaligus rapuh. Jika dibandingkan dengan kedua tokoh sebelum dan sesudahnya (Donna dan Nies) Bee adalah tokoh yang paling naif. Karena dia begitu terikat pada kekasihnya, Eve, yang menurut saya menyebalkan karena sudah berkali-kali menyakiti perasaan Bee, padahal disisinya masih ada orang lain yang jauh lebih baik dan perhatian daripada Eve.

Cemilan ketiga, Brownies, bercerita tentang Nies yang sangat emosional. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang karakter yang satu ini, selain dia memiliki karier yang cemerlang sebagai seorang Arsitek, mempunyai kekasih yang sangat mencintainya dan telah hidup bersama selama beberapa tahun, tapi sayang pada akhirnya Nies ditinggalkan begitu saja. Dan anehnya, dia tidak berusaha mencari tahu kepergian kekasihnya, Hanny. Dia terus saja menyibukkan diri dengan blognya dan melakukan hal konyol lainnya.

Lesbian memang masih dipandang aneh oleh sebagian orang, terutama di masyarakat kita. Kebanyakan dari kaum tersebut ada yang berusaha mati-matian menutup identitas diri mereka yang sebenanrnya ada juga yang terang-terangan membuka diri, di novel ini menggambarkan bagaimana tekanan batin yang mereka hadapi sebagai kaum minoritas, sangat susah dan berat (terutama di cerita terakhir – dari ketiga cerita, kisah Nies yang paling saya suka) kentara sekali tekanan yang harus dihadapi Nies saat dia dijauhkan dari kekasihnya, Hanny.

Membaca cerita cinta tentang lesbian sebenarnya hampir sama dengan kisah cinta pada umumnya – yang membedakan cuma persoalan gender. Di novel ini, yang bisa saya nilai dari ketiga cerita antara Donna, Bee dan Nies – mereka semua, cenderung terlihat plin-plan dan tidak punya sikap, mungkin karena orientasi seksual mereka yang berbeda itu yang membuat sikap ketiganya penuh dengan kebimbangan. Jujur saja, sempat kesel dengan akhir cerita yang dibiarkan menggantung, seolah pembaca dibiarkan menebak sendiri seperti apa akhirnya, happy ending kah atau sad ending?

Overall, bukan novel yang membosankan juga bukan yang menarik sekali, I said it was mediocre. Biasa saja.

Saya beri bintang tiga karena: topiknya yang “spesial” dan cerita yang mengantung, it’s so irritating.

2 thoughts on “Review: Club Camilan

    • susah banget – sampe ngendon di draft beberapa hari nih baru di publish – hedeh..jadinya yah seperti ini deh :'(

      (berharap nggak ada yang ngeledekin dengan bilang “makanya kalo gak ada yang ditulis jangan nulis”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s