Review: Gadis Pantai

Cover Gadis Pantai

Judul: Gadis Pantai
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
ISBN: 9789799731203
Terbit: 11 November 2007
Halaman: 272 hlm.

Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis belia dari kampung nelayan di Rembang, Jawa Tengah yang dinikahkan pada seorang priyayi, biasa disebut Bendoro di usianya yg masih sangat muda, bahkan belum genap 17 tahun. Bendoro itu sendiri tidak menghadiri upacara pernikahannya dan hanya diwakili oleh sebilah keris.

Gadis ini dikenal dengan nama Gadis Pantai yang kemudian setelah dia menjadi istri Bendoro dia mendapat sebutan, Bendoro Putri atau Mas Nganten. Mas Nganten adalah nama lain dari selir atau gundik.

Kehidupan Gadis Pantai selama menjadi istri Bendoro berubah total, jauh dari kata bahagia. Segala tindakan dan gerak geriknya sangat dibatasi. Meski keadaannya sekarang sudah terhormat, tinggal di rumah mewah, serba berkecukupan dan tidak perlu melakukan pekerjaan berat seperti yang dulu dia kerjakan semasa tinggal di kampung nelayan. Gadis Pantai tidak merasa bahagia, dia kesepian dan tidak memiliki teman bicara. Suaminya sendiri, Bendoro, jarang pulang apalagi mengajaknya berbicara. Kalaupun Bendoro pulang yang pertama kali diinginkannya bukanlah berbicara atau ngobrol dengan Gadis Pantai.

Novel ini sangat menarik untuk dibaca, seolah membuka mata, persepsi dan pemahaman kita tentang perilaku dan kehidupan para priyayi pada masa itu, tradisi yang sangat salah, penindasan atas hak dan harga diri seorang wanita, mereka – para priyayi itu dibutakan oleh derajat dan kehormatan sehingga sampai hati berlaku kejam terhadap bangsanya sendiri, sesama pribumi. Mereka yang katanya adalah priyayi atau orang terpelajar, tapi bertingkah begitu mengerikan, sedangkan para nelayan dan orang-orang yang tinggal di kampung nelayan, yang jauh dari kehidupan layak dan terpandang, bisa bersikap jauh lebih terhormat dan penuh kasih.

Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini…Ah, tidak aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.

Emosi saya naik turun membaca tiap kalimatnya, hingga akhir halaman emosi saya masih saja naik turun, endingnya sangat miris. Saya sedih sekaligus bangga pada sikap Gadis Pantai, dia bisa begitu tabah, kuat dan tenang – meski haknya dirampas dan harga dirinya diinjak-injak. Gadis Pantai adalah salah satu yang bisa dijadikan contoh sebagai sosok perempuan yang tangguh.

Menurut beberapa referensi yang saya baca, novel ini seharusnya terdiri dari trilogi, namun karena kekuatan penguasa pada masa itu, hanya sebagian dari buku ini yang bisa diselamatkan dan dinikmati oleh pembaca hingga saat ini. Beberapa referensi juga mengatakan bahwa kisah Gadis Pantai ini adalah kisah pribadi dari Sang Nenek. Wow! That’s incredible. Untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel terkait berikut ini.

Postingan ini diikutsertakan dalam event: Membaca Sastra Indonesia 2013, Klasik dan Kontemporer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s